Kabar untuk Langit dari Kolong Senja

10:25:00 PM

Senja, padahal sejatinya aku bukanlah pujangga yang menghasilkan baris-baris kalimat romansa tatkala ia menyapa. Aku hanya manusia yang berada di kolong senja jika waktunya tiba dan belajar arti merelakan saat ia mulai meninggalkanku perlahan bersama dengan gelapnya langit malam.


Ada harapan yang pernah kupelihara sendiri tanpa tahu jejaknya keliru.
Malu, aku malu kepada waktu yang menjadi saksi kepiluanku kala itu. Dinding harapan yang terbangun dengan sendirinya pada ruang hati pun runtuh menjadi kesia-siaan.

Lantas apalagi dayaku, selain merelakan dan menerima hari-hari berikutnya yang lebih nyata dengan langkah-langkah yang tak lagi seimbang, bak menghunus kenyataan yang begitu menusuk perasaanku, aku kecewa pada diri ini, mengapa aku tidak pernah tahu? mengapa aku harus berjalan terhuyung menghalau badai yang kuciptaan sendiri?

Aku hanya manusia yang tak luput dari rasa kecewa dan juga jauh dari rasa syukur. Maka kubiarkan segala asaku hancur tak bersisa. Tangisku pecah, bukan karena harapku yang tak menjelma nyata, melainkan diri ini yang begitu naif dengan perasaan yang sebenernya tak begitu logis untuk dilanjutkan, terlalu lama bersemayam tanpa disampaikan kepada pemiliknya. Aku hanya menghanyutkannya pada waktu yang ternyata salah muara, tapi aku tahu. Inilah takdirku. walau pahit. Inilah takdirku. 

Terima kasih Langit, darimu aku belajar bersabar pada penantian, belajar tentang ketulusan, belajar berdiri saat kenyataan menghujam ragaku, dan belajar untuk merelakan yang bukan menjadi takdirku lalu belajar untuk tetap berjalan diatas ketetapan waktu. 

Kelak waktuku tiba, akan kutemukan kebahagiaanku sepertimu.
jika sempat terbaca olehmu, Do'akanlah kebaikan untukku karena kaupun pernah menjadi lakon dalam do'a-do'aku. Kini aku baik-baik saja dengan langkah yang baru.  Akhir kata, maafkan aku pernah menaruh rasa semauku atas namamu. 

Kabar Baikku, dari Kolong Senja.




 



You Might Also Like

1 comments